Menolak ajakan istri Jeki, apa kabar? Saya Karin asal Manado. Saya selalu mengiyakan ajakan bertemu dengan teman-teman, sampai terkadang saya kewalahan sendiri. Saya ini orangnya suka tidak enakan, bagaimana cara terbaik untuk menolak ajakan teman? Jawaban: Dear Karin, Apa yang Anda alami adalah sesuatu yang juga dialami oleh banyak orang dalam budaya kolektif / seperti Indonesia, yaitu mempertimbangkan (bahkan terkadang sampai berlebihan) sudut pandang orang lain (pikiran-perasaan-kebutuhan) dalam mengambil keputusan dan berperilaku di lingkungan sosial pergaulan. Seringkali kalimat-kalimat berikut muncul secara otomatis dalam kepala kita “Aduh nanti apa ya yang akan dipikirkan dia/mereka kalau aku melakukan ini?”, “Ah enggak enak juga, kalau aku bilang
yang sebenarnya, aku mau”, atau “Nanti dia sedih/marah/kecewa kalau aku menolak ajakannya”. Semua pikiran otomatis ini menghambat kita untuk menampilkan apa yang sebenarnya menjadi pikiran-perasaan-kebutuhan kita sendiri. Dalam terminologi psikologi komunikasi, ini disebut komunikasi yang non-asertif (pasif), di mana kita lebih mendahulukan kebutuhan orang lain dibanding diri kita sendiri, meskipun kita tahu kita akan mengalami efek yang negatif dari pilihan kita tersebut. Jangan salah paham ya, Karin. Terkadang komunikasi non-asertif (pasif) ini juga diperlukan dan tepat dalam beberapa jenis situasi, semisal dengan orangtua atau pasangan, meski juga tidak baik jika terus-menerus dilakukan. Yang dapat Anda lakukan adalah berlatih kemampuan berkomunikasi
asertif, yaitu mengekspresikan dengan penuh keyakinan pikiran, perasaan, dan keyakinan dengan cara menyatakannya secara jelas, langsung, selaras, dan pada tempatnya berlandaskan pada keberpihakan pada diri sendiri, tanpa melanggar hak orang lain. Definisi yang panjang tetapi lengkap karena mencakup mental set internal dan ekspresi eksternal yang seharusnya. Bagaimana caranya? 1. Tentukan terlebih dahulu apa yang Anda mau sebenar-benarnya. Kita ambil contoh apa yang Anda sampaikan: teman Anda mengajak berkumpul di mal. Coba tanyakan pada diri Anda, apakah Anda memang mau untuk ikut berkumpul di mal? Adakah tugas kuliah/pekerjaan, adakah janji lain, adakah acara TV yang hendak Anda tonton, adakah tugas rumah
yang harus Anda selesaikan, adakah keinginan untuk diam di rumah saja, atau lain-lain. Putuskan dulu: mau atau tidak mau. 2. Pertimbangkan siapa, apa, kapan, dan mengapa, pihak rekan bicara Anda itu. Selain diri sendiri dan apa yang Anda mau, coba periksa siapa yang mengajak Anda itu dan apa alasannya. Bisa saja teman Anda itu hendak curhat sesuatu yang penting sekali. Atau mungkin dia hanya ingin main saja. Berdasarkan informasi itu, tentukan apakah keputusan Anda di poin http://hamilton-city.org/redirect.aspx?url=http://www.gurupendidikan.com/ pertama akan tetap atau berubah. Mempertimbangkan positif dan negatif dari tiap kemungkinan bisa jadi strategi yang membantu Anda.
Menolak ajakan suami berhubungan
No comments:
Post a Comment